Rabu, 17 Maret 2010

Gumam-gumam di Warung Kopi

Oleh: Muhammad Udin Z.S

“Bajigur!, mereka itu manusia apa bukan seh!, kok gak punya hati!” sentak Joko lantaran kesal melihat siaran langsung disalah satu stasiun televisi.

“Mereka itu manusia tapi hatinya terbuat dari beton, keras. Jadi ngak pernah ngerasa bersalah apalagi kasihan, dah ngak mungkin”. Timpal Titi yang baru selesai membuat teh.

“Betul Ti! masak keluhan pelayanan aja sampai diseret ke pengadilan, mana nuntut kerugian lagi. Dah tahu orang susah masih aja dituntut. Kalau gak mau dikritik, ngak usah dirikan Rumah Duka aja sekalian, biar ngak ada yang masuk penjara dan ngeluarin duit banyak buat ganti rugi. Sahut Adji.

“Sebenarnya siapa seh yang salah, meraka atau Ibu Ita? Bukannya negara kita ini negara demokrasi; bebas ngeluarin pendapat maupun kritikan, tapi kenapa Bu Ita jadi tersangka?, dituntut pula?. Tanya Parmin

“Yang salah ya mereka lah, lawong Bu Ita masuk ke situ supaya cepat sembuh kok malah tambah parah. Ditanya sakitnya apa?, katanya positif demam berdarah, eh… beberapa hari kemudian katanya terkena virus udara, lain hari lagi katanya terkena gondongan, siapa yang ngak marah coba? kalau bicara dokternya mencla-mencle. Wajarlah kalau Bu Ita komplain dan mengeluhkan kekesalannya. Eh… keluhannya malah dituding mencemarkan nama baik?. Menurutmu siapa yang salah? Ha!” Jawab Joko dengan kesal

Dilayar televisi

“Ini soal keadilan, pihak kami merasa dirugikan dengan Email Bu Ita yang disebarkan ke teman-temannya. Sebab menurut kami semua yang dikeluhkannya belum tentu benar”. Jawab wakil Rumah Duka Ompung diacara tersebut.

“Tapi bukankah kritikan itu bisa membangun pelayanan Rumah Duka Ompung, agar bisa lebih baik ke depannya?”. Pembawa acara melontarkan pertanyaan

“Benar mbak, kritik memang bisa membangun. Tapi masalahnya kritikan itu disebarkan luaskan dan ditambah-tambahi sehingga nama baik kami tercemar. Sebenarnya jika Bu Ita tidak melakukan itu, kami menerima kritikannya dengan lapang. Dan perlu saya tegaskan sekali lagi, semua yang dikeluhkan itu belum tentu benar”.

“Wedus!, Joko pun kembali kesal, suasana di warung pun semakin panas. Keadilan bagi siapa?, Sudah kelihatan mereka yang salah pakai bawa-bawa nama keadilan, masyarakat juga tak ada yang mau membela mereka, apalagi mendukungnya. Itu bukti kalau keadilan sebenarnya tidak memihak mereka. Tapi sayangnya di negeri ini keadilan bisa di perjual belikan. Siapa yang beruang, merekalah yang menang. Rokok-rokok ti, sumpek aku nonton siaran ini.

“Sabar Ko sabar, sahut Titi coba menenangkan, Jadi orang kecil itu mesti sabar. Sabar diinjak-injak, sabar diperlakukan tidak adil, dan sabar menerima kenyataan meskipun pahit. Seperti bu Ita yang selalu sabar dalam menghadapi ketidakadilan. Dengar itu apa yang akan diutarakan bu Ita”.

Sejenak mereka kembali menatap layar televisi.

“Saya pasrah, apa pun yang terjadi dipengadilan nanti. Biarpun nanti saya dinyatakan bersalah dan harus menyerahkan ganti rugi sebesar 204 juta, saya siap. Sebab menurut keyakinan saya, kebenaran Hanya Allah semata yang tahu. Dan Dia pasti tahu siapa yang salah dan siapa yang terdzholimi di sini”.

“Benar itu Mbak Ita, Allah pasti tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal bagi mereka yang salah diakhirat kelak”. Tanggap Adji yang nampak mendukung ucapan Bu Ita

Amin…………! Serempak Joko, Parmen, dan Titi mendoakan.

“Terus bagaimana suasana Rumah Duka anda saat ini, apakah semakin ramai, biasa-biasa saja atau sebaliknya?” lanjut pembawa acara melontarkan pertanyaan.

“Kondisinya biasa-biasa saja, tidak ada efek sedikit pun terkait kepercayaan masyarakat terhadap Rumah Duka kami. Dokter-dokter juga bekerja seperti biasa, dan pasien pun nampak nyaman-nyaman saja. Tidak ada rasa khawatir timbul dari mereka mengenai pelayanan kami”.

“Bohong itu, pasti pasien yang ada disitu berkurang dan semakin hari-semakin sepi. Mana mungkin suasananya biasa-biasa saja, lawong tak satu pun dari mereka (masyarakat) mendukung tuntutan yang diajukan biro Rumah Duka itu. Tak ada yang ngumpulkan koin untuk dana yang dikeluar Rumah Duka itu, tak ada sumbangan lagu, puisi, dan gerakan sosial buat mereka. Tanggap Joko yang seakan tak percaya dengan ungkapan wakil Rumah Duka itu.

“Iya Men, saya kira juga demikian. Dan mungkin setelah masalah ini selesai, tidak ada orang sakit yang sudi berobat kesitu. Mana biayanya mahal, pelayanannya tidak maksimal, dan membuat orang sakit malah bertambah parah. Lebih baik murah tapi menjamin. Orang-orang seperti kita kan suka yang murah-murah, betul tidak?”. Timpal Parmen

Sepakat Ko!. Sahut Adji

Iklan-iklan lewat berpromosi disaat acara siaran itu break sebentar. Dua menit kemudian siaran itu pun berlanjut. Pembawa acara di stasiun televisi itu melontarkan pertanyaan kembali buat Rumah Duka Ompung

“Apakah anda tidak khawatir, jika seandainya nanti Rumah Duka Ompung menang terus hal yang parah malah terjadi?, misalnya tutup? atau yang lainnya?. Melihat tanggapan masyarakat terhadap citra Rumah Duka Ompung sudah nampak buruk.

“Kami tidak perlu khawatir, karena ini adalah upaya kami dalam menuntut keadilan. Tidak ada sangkut pautnya dengan tanggapan masyarakat. Kami yakin mereka bisa menilai sendiri setelah persidangan nanti. Dan menurut kami kasus ini merupakan pembelajaran bagi mereka (masyarakat awam) mengenai hukum dan keadilan, yang mana pemahaman meraka sangat minim mengenai hal tersebut ’’.

“Bajigur! sok ngerti soal hukum, sergah Joko karena merasa telingganya panas mendengar jawaban wakil Rumah Duka Ompung. Seharusnya mereka itu yang perlu belajar hukum, bukan kita. Mereka yang menyalahgunakan kekuasaan tuk menyengsarakan rakyat kecil. Mereka yang mengebu-gebu nuntut pengembalian nama baik sebesar 204 juta atas nama keadilan, atas nama hukum, atas nama.. tai’ lah!. Bilang aja pengen ngembali’in kerugian biaya yang telah mereka keluarkan”.

“Ya..nama juga usaha Ko, bisnis”, timpal Titi, “Mau tak mau harus dapat untung, minim modal harus kembali, jangan sampai rugi. Dan Jangan heran kalau kasus yang sudah selesai pun diungkit-ungkit lagi. Seperti saya ini, pedagang warungan, inginnya untung tapi malah buntung, gara-gara sampeyan-sampeyan ini” Titi menyodorkan telunjuknya ke muka Joko, Parmen, dan Adji

“Lho kok malah kita yang disalahin” sahut Parmin yang tidak terima

“Terus siapa lagi?, yang sering ngutangkan sampeyan-sampeyan”

“Hehehe…” Joko, Parmen dan Adji tersenyum kecut sambil mengaruk-garuk kepala

“Kayaknya udah ada yang terjangkit virus Rumah Duka Ompung nich” ucap Joko tanpa memandang siapa pun dengan menaik-turunkan alisnya.

“Yeh….siapa yang terkena virus itu, tak mungkinlah yoou, lawong saya cuma bercanda”. Sahut Titi yang merasa tersinggung.

“Saya tidak bilang kamu lho Ti, kamu sendiri yang merasa kalau kamu terjangkit virus tersebut, jadi bukan saya”

Melihat mimik Titi yang nampak kebinggung sebab terkena batunya, Joko, Parmen dan Adji tertawa terbahak-bahak.

Kemudian mendadak perhatian mereka kembali tersedot ke layar televisi ketika pembawa acara di stasiun tersebut meminta Bu Ita tuk menuangkan tanggapan, harapan dan pesan terakhirnya terkait Rumah Duka Ompung lantaran acara siaran sebentar lagi selesai.

“Ya. jelas ada rasa kecewa, itu lumrah. Sebab saya sebagai pasien tidak mengharapkan hal ini terjadi. Siapa pun itu pasti tidak menginginkannya. Harapan saya tentu saya akan lebih senang seandainya masalah ini bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Tapi bila tidak, ya, saya pasrah saja terhadap keputusan sidang besok. Apapun keputusan itu akan saya terima dengan tegar. Dan sebelumnya saya minta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan saya. Pesan terakhir saya, “Orang yang bijak adalah orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain”.

“Siii…..p, Bu”, kata Adji sambil mengacungkan jempolnya ke layar televisi.

“Tenang saja bu Ita, ibu tidak sendirian, kita selalu bersamamu, mendukung Bu Ita tuk terus tegar dalam menghadapi ketidakadilan”. Sahut Parmen menambahi

Joko pun tak mau kalah menyemangati Bu Ita. Di depan warung Titi, ia meneriakkan dukungannya dengan lantang.

Jangan takut melawan ketidakadilan Bu!, kita ada bersamamu!, mendukungmu!,meski ibu dinyatakan bersalah kita akan selalu mendukung Bu Ita!, hidup Bu Ita!” Joko mengangkat tangan kanannya layaknya mahasiswa yang sedang berorasi.

Hidup! Sahut Titi, Adji, Parmin dengan serempak sembari mengangkat tangan kanan.

Acara siaran di stasiun televisi itu pun selesai, setelah Bu Ita menuangkan tanggapan, harapan dan pesan terakhirnya. Namun Joko, Parmen, Adji belum beranjak dari warung Titi. Mereka masih menikmati kopi dan beberapa batang rokok sambil berbincang-bincang tentang persidangan besok.

“Menurutmu siapa yang menang Ko, Bu Ita atau Rumah Duka Ompung?” Tanya Adji

“Tadikan sudah kubilang siapa yang beruang merekalah yang menang. Jadi menurutmu siapa yang menang?. Joko kembali bertanya.

Parmen yang baru menyeruput kopi tak mau ketinggalan, ia pun ikut menanggapi. “Kalau menurutku seh yang menang Bu Ita, sebab tidak hanya rakyat kecil, seniman, dan para pelajar saja yang mendukung Bu Ita, bahkan para pejabat pun ikut turun dalam gerakan tersebut. Mulai dari sumbangan uang sampai sumbangan pemikiran, semua itu dipersembahkan khusus untuk Bu Ita.

“Aku agak setuju dengan pendapat Parmen meskipun masih ragu lantaran yang dikatakan Joko juga ada benarnya. Akan tetapi aku tidak sepakat dengan dua frasa “menang” atau “kalah” seolah-olah mengambarkan hukum seperti sebuah pertandingan. Di dalam hukum tidak ada kata menang atau kalah, yang ada hanya kata salah dan benar”. Sahut Titi

Mereka pun larut dalam perbincangan. Sampai tak terasa waktu telah mengubah sore berganti malam. Lantas Joko, Parmen dan Adji beranjak pulang. Seperti biasa mereka ngutang di warung Titi lantaran belum gajian.

Titi pun paham hanya dengan lirikan mereka dan ucapan “biasa Ti” seolah ekspresi tersebut mewakili perkataan “utang”, karena mungkin sudah menjadi kebiasaan diantara mereka dalam transaksi utang-piutang.

Sebelum mereka pergi Titi memanggil Joko, ia menitipkan segepok koin.

“Nanti koin ini kasihkan ke pak Suryo panitia peduli Ita, di kecamatan”

“Siap Nyonya”

Mereka pun berjalan, dan lamat-lamat menghilang ditelan massa.

Yogyakarta, 17 Desember 2009

Biodata Penulis:

Muhammad Udin Z.S. Lahir di Sambonggede, Tuban 11 juni 1988. Sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Adab, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA).

Alamat:

Nologaten, Gg Temuireng, No 5, RT 10, RW 04

Rabu, 10 Maret 2010

Dipermainkan Anjing!!!

Oleh: Muhammad Udin Z.S


“Aku dipermainkan anjing!. Anjing yang kujinakkan sendiri selama berbulan-bulan agar dapat menemaniku di malam minggu dan melindungiku dari gigitan anjing-anjing jalanan yang kutakutkan terkena rabies”. Cetus Mey dengan rasa kesal.


“Bagaimana mungkin kamu dipermainkan anjing, anjingmu yang kemarin kubelai-belai jidatnya dan hanya diam manis saja itukan?!”. Tanya lastri seakan tak percaya


“Ya!, benar”.


“Aih, tak mungkin anjing sejinak itu mempermainkanmu, aku tak percaya!”.


“Percaya atau tidak aku melihat sendiri dengan mata telanjang, anjing itu mempermainkanku. Ia mengendus-ngendus di depan perempuan yang tak kukenal supaya dibelai dan dicium jidatnya”.


“Bukankah itu hal yang baik, setidaknya ada yang memperhatikan anjingmu selain dirimu. Apa ada yang salah jika anjingmu mengendus-ngendus pada setiap orang, lalu mendapat imbalan berupa belaian dan ciuman, bukankah anjing memang selalu begitu?”.


“Kalau itu aku bisa memakluminya, karena hal semacam itu sudah menjadi kebiasaan anjing!. Tapi masalahnya sekarang anjing itu jarang di kandang bila menjelang malam, semenjak dicium perempuan itu. Sementara banyak anjing-anjing jalanan berkeliaran di komplek di waktu malam, aku khawatir salah satu dari mereka masuk dalam rumahku lalu mengigit dan mencakar-cakar kulitku”.


“Kalau begitu rantai saja lehernya terus ikatkan ke kandangnya, beres kan”.


“Tidak semudah itu”.


“Ah, begitu saja tidak bisa, apa perlu aku ikut turun tangan”.


“Tidak perlu, aku sudah pernah melakukannya. Itu kulakukan saat pertama kali aku menjinakkannya. Selama satu minggu aku merantainya. Aku beri makan ia dengan makanan anjing yang paling mahal dan menungguinya sembari mengajaknya berbicara selama ia makan. Tapi ketika aku hendak mengelus jidatnya, tiba-tiba saja dengan tatapan seram ia meraung memperlihatkan gigi geruncingnya seakan mau menerkamku. Ia tidak semakin jinak, malah kian mengganas. Lalu aku pun melepas rantainya sewaktu ia mendengkur. Dan bila waktu makan aku letakkan makanannya di depan kandang. Lama-kelamaan ia menjadi jinak sendiri seperti sekarang. Itulah alasannya kenapa aku tidak mau merantainya”.


“Tapi, tampaknya aku ragu kalau anjingmu yang kemarin kulihat jinak dan penurut itu mempermainkanmu. Dan aku juga tidak yakin apakah perempuan itu penyebab utama anjingmu sering keluar disaat malam menjelang?. Apa kamu sudah menyelidiki ke mana anjingmu pergi?”.


“Belum, tapi aku yakin semua yang dilakukan anjingku pasti ada hubungannya dengan perempuan itu”.



***

Langit semakin petang. Burung-burung beterbangan kembali ke sarang. Demikian para pekerja berlalu lalang pulang berebut jalan yang kian sempit karena banyak bangunan yang menghimpit. Dan matahari pun mulai lelah, tengelam, setelah setengah hari menerangi hamparan alam dengan sinarnya yang terang.


Dan tampaknnya anjingku mulai bersiap-siap tuk meninggalkan kandang. Ia berjalan pelan menunduk-nundukkan kepalanya supaya tidak ketahuan. Aku mengikutinya dari belakang secara diam-diam. Ia tak tahu. Sesekali ia menenggok sambil menjulur-julurkan lidahnya. seakan memastikan keadaan. Ia pun mempercepat jalannya lantaran merasa aman.


“Dasar anjing bodoh!. Kali ini aku tidak akan kecolongan dan akan kubuktikan pada Lastri bahwa ucapanku itu benar”.


Ia berhenti di sebuah rumah yang lebih besar dari rumahku. Rumah itu mempunyai pekarangan yang lumayan indah jika dibandingkan rumahku yang tidak ada sama sekali. Gersang. Tapi ada sedikit kesamaan dengan rumahku, rumah itu tidak berpagar.


Dan ternyata ia masuk di dalam rumah itu. Aku pun mengendap-gendap mendekati rumah itu. Lantas secepat dan sehati-hati mungkin kurapatkan tubuhku ke tembok agar kehadiranku tidak diketahui oleh anjing bodoh itu. Kebetulan di sebelah kanan tembok rumah itu ada sebuah jendela yang sedikit terbuka sehingga aku bisa mengintip ke dalamnya.


Di dalam, aku lihat lemari kayu sederhana, sebuah dipan sekaligus kasurnya yang tampaknya cukup dibuat berdua, dan sebuah meja rias lengkap dengan peralatan make-upnya. Aku dapat memastikan yang kuamati sekarang merupakan kamar tidur dari rumah yang cukup besar ini. Tapi sayang, aku tidak bisa melihat anjing bodoh itu sebab kamar tidurnya tersekat tembok dan pintunya tertutup.


Aku hanya bisa menunggu di sisi luar cendela ini, setelah berputar mengelinggi rumah yang cukup besar ini aku tidak menemukan celah lagi selain di sini.


Petang pun bertambah pekat. Bulan dan bintang kian gemerlap di atas sana. Begitu pula lampu-lampu rumah tampak semakin terang. Aku masih tetap menunggu sembari bersandar menikmati keindahan dalam heningnya malam. Suasana komplek perumahan memang selalu sepi bila malam menjelang. Tak ada suara jangkrik, katak, atau binatang melata lainnya. Bahkan, suara anjing bodoh itu juga tak kudengar semenjak dari tadi. Hanya terkadang terdengar suara derum motor dan mobil yang datang silih berganti. Bising, memecahkan keheningan.


Dan beberapa saat kemudian aku terjaga dari lamunanku ketika kudengar suara anjing bodoh itu meringkih bersama desahan manusia berpeluh. Rasa penasaran mendesakku tuk segera berbalik ke cendela. Mata dan telingaku pun kembali menelisik dalam ruang kamar itu.


Seketika aku tersentak kaget, melihat anjingku bercumbu dengan manusia. Lidahnya menjulur menjilati liur yang hendak menetes. Aku jijik melihatnya. Anehnya, manusia itu sama sekali tidak merasa jijik, bahkan ia menghisap kembali air liurnya yang melumuri lidah anjingku. Lantas mereka berguling-guling di atas kasur dan berpelukan layaknya sepasang pengantin. Anjingku mencabik-cabik pakaian manusia itu hingga setengah telanjang, lalu menjilati liang liurnya. Sementara manusia itu kian mendesah-desah kenikmatan hingga akhirnya mereka terbang kepuncak singasana birahi. Menyatu dalam jiwa dan raga.


Tak sempat kubayangkan jika hal itu terjadi kepadaku. Bersenggama dengan anjing, aih! aku takkan sudi melakukan itu. Suatu perbuatan bodoh!, mau-maunya dipermainkan anjing. Sama saja menganggap diri sendiri anjing. Dan aku tak mau dianggap anjing, karena aku adalah mahluk yang dianugerahi pikiran sekaligus nafsu agar seimbang dalam menjalani kehidupan. Lain halnya binatang yang bertindak-tanduk hanya dengan nafsu belaka.


***


Pagi-pagi betul Mey pergi ke kantor. Ia sudah tak sabar ingin menceritakan kejadian yang ia lihat semalam itu pada teman sekantornya. Setiba di kantor ia pun langsung mencarinya. Kebetulan temannya juga baru saja datang.


“Kamu tahu apa yang kulihat kemarin, Las”.


Apa, apa?! Lastri penasaran


Kemarin aku lihat…… Mey berhenti sejenak tuk menghirup udara.


Kamu lihat apa?!, cepat ceritakan!. Tampaknya Lastri semakin penasaran


Aku lihat anjingku bersenggama dengan manusia.


Mata Lastri membelalak. Ia tercenggang mendengar kabar yang menurutnya amat sangat mustahil terjadi.


Dan kamu tahu siapa manusia itu?, tepat, seperti dugaanku, ia adalah perempuan yang kemarin mengelus dan mencium jidat anjingku.


Lastri semakin tersentak dan tak berkomentar sedikit pun setelah mendengar cerita Mey. Rasa sedih dan khawatir pun timbul tiba-tiba. Menurutnya Mey telah terserang penyakit anjing gila. Sehingga ia harus segera diperiksa dan dibawa rumah sakit jiwa lantaran virus tersebut mudah menyebar melalui hungungan kontak langsung.



Yogyakarta, 20 agustus 2009


Terinspirasi oleh Film “Mereka Bilang, Saya Monyet”.


Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Adab, Jurusan BSA, semester 5 (Lima).