Gumam-gumam di Warung Kopi
Oleh: Muhammad Udin Z.S
“Bajigur!, mereka itu manusia apa bukan seh!, kok gak punya hati!” sentak Joko lantaran kesal melihat siaran langsung disalah satu stasiun televisi.
“Mereka itu manusia tapi hatinya terbuat dari beton, keras. Jadi ngak pernah ngerasa bersalah apalagi kasihan, dah ngak mungkin”. Timpal Titi yang baru selesai membuat teh.
“Betul Ti! masak keluhan pelayanan aja sampai diseret ke pengadilan, mana nuntut kerugian lagi. Dah tahu orang susah masih aja dituntut. Kalau gak mau dikritik, ngak usah dirikan Rumah Duka aja sekalian, biar ngak ada yang masuk penjara dan ngeluarin duit banyak buat ganti rugi. Sahut Adji.
“Sebenarnya siapa seh yang salah, meraka atau Ibu Ita? Bukannya negara kita ini negara demokrasi; bebas ngeluarin pendapat maupun kritikan, tapi kenapa Bu Ita jadi tersangka?, dituntut pula?. Tanya Parmin
“Yang salah ya mereka lah, lawong Bu Ita masuk ke situ supaya cepat sembuh kok malah tambah parah. Ditanya sakitnya apa?, katanya positif demam berdarah, eh… beberapa hari kemudian katanya terkena virus udara, lain hari lagi katanya terkena gondongan, siapa yang ngak marah coba? kalau bicara dokternya mencla-mencle. Wajarlah kalau Bu Ita komplain dan mengeluhkan kekesalannya. Eh… keluhannya malah dituding mencemarkan nama baik?. Menurutmu siapa yang salah? Ha!” Jawab Joko dengan kesal
Dilayar televisi
“Ini soal keadilan, pihak kami merasa dirugikan dengan Email Bu Ita yang disebarkan ke teman-temannya. Sebab menurut kami semua yang dikeluhkannya belum tentu benar”. Jawab wakil Rumah Duka Ompung diacara tersebut.
“Tapi bukankah kritikan itu bisa membangun pelayanan Rumah Duka Ompung, agar bisa lebih baik ke depannya?”. Pembawa acara melontarkan pertanyaan
“Benar mbak, kritik memang bisa membangun. Tapi masalahnya kritikan itu disebarkan luaskan dan ditambah-tambahi sehingga nama baik kami tercemar. Sebenarnya jika Bu Ita tidak melakukan itu, kami menerima kritikannya dengan lapang. Dan perlu saya tegaskan sekali lagi, semua yang dikeluhkan itu belum tentu benar”.
“Wedus!, Joko pun kembali kesal, suasana di warung pun semakin panas. Keadilan bagi siapa?, Sudah kelihatan mereka yang salah pakai bawa-bawa nama keadilan, masyarakat juga tak ada yang mau membela mereka, apalagi mendukungnya. Itu bukti kalau keadilan sebenarnya tidak memihak mereka. Tapi sayangnya di negeri ini keadilan bisa di perjual belikan. Siapa yang beruang, merekalah yang menang. Rokok-rokok ti, sumpek aku nonton siaran ini.
“Sabar Ko sabar, sahut Titi coba menenangkan, Jadi orang kecil itu mesti sabar. Sabar diinjak-injak, sabar diperlakukan tidak adil, dan sabar menerima kenyataan meskipun pahit. Seperti bu Ita yang selalu sabar dalam menghadapi ketidakadilan. Dengar itu apa yang akan diutarakan bu Ita”.
Sejenak mereka kembali menatap layar televisi.
“Saya pasrah, apa pun yang terjadi dipengadilan nanti. Biarpun nanti saya dinyatakan bersalah dan harus menyerahkan ganti rugi sebesar 204 juta, saya siap. Sebab menurut keyakinan saya, kebenaran Hanya Allah semata yang tahu. Dan Dia pasti tahu siapa yang salah dan siapa yang terdzholimi di sini”.
“Benar itu Mbak Ita, Allah pasti tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal bagi mereka yang salah diakhirat kelak”. Tanggap Adji yang nampak mendukung ucapan Bu Ita
Amin…………! Serempak Joko, Parmen, dan Titi mendoakan.
“Terus bagaimana suasana Rumah Duka anda saat ini, apakah semakin ramai, biasa-biasa saja atau sebaliknya?” lanjut pembawa acara melontarkan pertanyaan.
“Kondisinya biasa-biasa saja, tidak ada efek sedikit pun terkait kepercayaan masyarakat terhadap Rumah Duka kami. Dokter-dokter juga bekerja seperti biasa, dan pasien pun nampak nyaman-nyaman saja. Tidak ada rasa khawatir timbul dari mereka mengenai pelayanan kami”.
“Bohong itu, pasti pasien yang ada disitu berkurang dan semakin hari-semakin sepi. Mana mungkin suasananya biasa-biasa saja, lawong tak satu pun dari mereka (masyarakat) mendukung tuntutan yang diajukan biro Rumah Duka itu. Tak ada yang ngumpulkan koin untuk dana yang dikeluar Rumah Duka itu, tak ada sumbangan lagu, puisi, dan gerakan sosial buat mereka. Tanggap Joko yang seakan tak percaya dengan ungkapan wakil Rumah Duka itu.
“Iya Men, saya kira juga demikian. Dan mungkin setelah masalah ini selesai, tidak ada orang sakit yang sudi berobat kesitu. Mana biayanya mahal, pelayanannya tidak maksimal, dan membuat orang sakit malah bertambah parah. Lebih baik murah tapi menjamin. Orang-orang seperti kita kan suka yang murah-murah, betul tidak?”. Timpal Parmen
Sepakat Ko!. Sahut Adji
Iklan-iklan lewat berpromosi disaat acara siaran itu break sebentar. Dua menit kemudian siaran itu pun berlanjut. Pembawa acara di stasiun televisi itu melontarkan pertanyaan kembali buat Rumah Duka Ompung
“Apakah anda tidak khawatir, jika seandainya nanti Rumah Duka Ompung menang terus hal yang parah malah terjadi?, misalnya tutup? atau yang lainnya?. Melihat tanggapan masyarakat terhadap citra Rumah Duka Ompung sudah nampak buruk.
“Kami tidak perlu khawatir, karena ini adalah upaya kami dalam menuntut keadilan. Tidak ada sangkut pautnya dengan tanggapan masyarakat. Kami yakin mereka bisa menilai sendiri setelah persidangan nanti. Dan menurut kami kasus ini merupakan pembelajaran bagi mereka (masyarakat awam) mengenai hukum dan keadilan, yang mana pemahaman meraka sangat minim mengenai hal tersebut ’’.
“Bajigur! sok ngerti soal hukum, sergah Joko karena merasa telingganya panas mendengar jawaban wakil Rumah Duka Ompung. Seharusnya mereka itu yang perlu belajar hukum, bukan kita. Mereka yang menyalahgunakan kekuasaan tuk menyengsarakan rakyat kecil. Mereka yang mengebu-gebu nuntut pengembalian nama baik sebesar 204 juta atas nama keadilan, atas nama hukum, atas nama.. tai’ lah!. Bilang aja pengen ngembali’in kerugian biaya yang telah mereka keluarkan”.
“Ya..nama juga usaha Ko, bisnis”, timpal Titi, “Mau tak mau harus dapat untung, minim modal harus kembali, jangan sampai rugi. Dan Jangan heran kalau kasus yang sudah selesai pun diungkit-ungkit lagi. Seperti saya ini, pedagang warungan, inginnya untung tapi malah buntung, gara-gara sampeyan-sampeyan ini” Titi menyodorkan telunjuknya ke muka Joko, Parmen, dan Adji
“Lho kok malah kita yang disalahin” sahut Parmin yang tidak terima
“Terus siapa lagi?, yang sering ngutangkan sampeyan-sampeyan”
“Hehehe…” Joko, Parmen dan Adji tersenyum kecut sambil mengaruk-garuk kepala
“Kayaknya udah ada yang terjangkit virus Rumah Duka Ompung nich” ucap Joko tanpa memandang siapa pun dengan menaik-turunkan alisnya.
“Yeh….siapa yang terkena virus itu, tak mungkinlah yoou, lawong saya cuma bercanda”. Sahut Titi yang merasa tersinggung.
“Saya tidak bilang kamu lho Ti, kamu sendiri yang merasa kalau kamu terjangkit virus tersebut, jadi bukan saya”
Melihat mimik Titi yang nampak kebinggung sebab terkena batunya, Joko, Parmen dan Adji tertawa terbahak-bahak.
Kemudian mendadak perhatian mereka kembali tersedot ke layar televisi ketika pembawa acara di stasiun tersebut meminta Bu Ita tuk menuangkan tanggapan, harapan dan pesan terakhirnya terkait Rumah Duka Ompung lantaran acara siaran sebentar lagi selesai.
“Ya. jelas ada rasa kecewa, itu lumrah. Sebab saya sebagai pasien tidak mengharapkan hal ini terjadi. Siapa pun itu pasti tidak menginginkannya. Harapan saya tentu saya akan lebih senang seandainya masalah ini bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Tapi bila tidak, ya, saya pasrah saja terhadap keputusan sidang besok. Apapun keputusan itu akan saya terima dengan tegar. Dan sebelumnya saya minta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan saya. Pesan terakhir saya, “Orang yang bijak adalah orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain”.
“Siii…..p, Bu”, kata Adji sambil mengacungkan jempolnya ke layar televisi.
“Tenang saja bu Ita, ibu tidak sendirian, kita selalu bersamamu, mendukung Bu Ita tuk terus tegar dalam menghadapi ketidakadilan”. Sahut Parmen menambahi
Joko pun tak mau kalah menyemangati Bu Ita. Di depan warung Titi, ia meneriakkan dukungannya dengan lantang.
Jangan takut melawan ketidakadilan Bu!, kita ada bersamamu!, mendukungmu!,meski ibu dinyatakan bersalah kita akan selalu mendukung Bu Ita!, hidup Bu Ita!” Joko mengangkat tangan kanannya layaknya mahasiswa yang sedang berorasi.
Hidup! Sahut Titi, Adji, Parmin dengan serempak sembari mengangkat tangan kanan.
Acara siaran di stasiun televisi itu pun selesai, setelah Bu Ita menuangkan tanggapan, harapan dan pesan terakhirnya. Namun Joko, Parmen, Adji belum beranjak dari warung Titi. Mereka masih menikmati kopi dan beberapa batang rokok sambil berbincang-bincang tentang persidangan besok.
“Menurutmu siapa yang menang Ko, Bu Ita atau Rumah Duka Ompung?” Tanya Adji
“Tadikan sudah kubilang siapa yang beruang merekalah yang menang. Jadi menurutmu siapa yang menang?. Joko kembali bertanya.
Parmen yang baru menyeruput kopi tak mau ketinggalan, ia pun ikut menanggapi. “Kalau menurutku seh yang menang Bu Ita, sebab tidak hanya rakyat kecil, seniman, dan para pelajar saja yang mendukung Bu Ita, bahkan para pejabat pun ikut turun dalam gerakan tersebut. Mulai dari sumbangan uang sampai sumbangan pemikiran, semua itu dipersembahkan khusus untuk Bu Ita.
“Aku agak setuju dengan pendapat Parmen meskipun masih ragu lantaran yang dikatakan Joko juga ada benarnya. Akan tetapi aku tidak sepakat dengan dua frasa “menang” atau “kalah” seolah-olah mengambarkan hukum seperti sebuah pertandingan. Di dalam hukum tidak ada kata menang atau kalah, yang ada hanya kata salah dan benar”. Sahut Titi
Mereka pun larut dalam perbincangan. Sampai tak terasa waktu telah mengubah sore berganti malam. Lantas Joko, Parmen dan Adji beranjak pulang. Seperti biasa mereka ngutang di warung Titi lantaran belum gajian.
Titi pun paham hanya dengan lirikan mereka dan ucapan “biasa Ti” seolah ekspresi tersebut mewakili perkataan “utang”, karena mungkin sudah menjadi kebiasaan diantara mereka dalam transaksi utang-piutang.
Sebelum mereka pergi Titi memanggil Joko, ia menitipkan segepok koin.
“Nanti koin ini kasihkan ke pak Suryo panitia peduli Ita, di kecamatan”
“Siap Nyonya”
Mereka pun berjalan, dan lamat-lamat menghilang ditelan massa.
Yogyakarta, 17 Desember 2009
Biodata Penulis:
Muhammad Udin Z.S. Lahir di Sambonggede, Tuban 11 juni 1988. Sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Adab, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA).
Alamat:
Nologaten, Gg Temuireng, No 5, RT 10, RW 04