Dipermainkan Anjing!!!
Oleh: Muhammad Udin Z.S
“Aku dipermainkan anjing!. Anjing yang kujinakkan sendiri selama berbulan-bulan agar dapat menemaniku di malam minggu dan melindungiku dari gigitan anjing-anjing jalanan yang kutakutkan terkena rabies”. Cetus Mey dengan rasa kesal.
“Bagaimana mungkin kamu dipermainkan anjing, anjingmu yang kemarin kubelai-belai jidatnya dan hanya diam manis saja itukan?!”. Tanya lastri seakan tak percaya
“Ya!, benar”.
“Aih, tak mungkin anjing sejinak itu mempermainkanmu, aku tak percaya!”.
“Percaya atau tidak aku melihat sendiri dengan mata telanjang, anjing itu mempermainkanku. Ia mengendus-ngendus di depan perempuan yang tak kukenal supaya dibelai dan dicium jidatnya”.
“Bukankah itu hal yang baik, setidaknya ada yang memperhatikan anjingmu selain dirimu. Apa ada yang salah jika anjingmu mengendus-ngendus pada setiap orang, lalu mendapat imbalan berupa belaian dan ciuman, bukankah anjing memang selalu begitu?”.
“Kalau itu aku bisa memakluminya, karena hal semacam itu sudah menjadi kebiasaan anjing!. Tapi masalahnya sekarang anjing itu jarang di kandang bila menjelang malam, semenjak dicium perempuan itu. Sementara banyak anjing-anjing jalanan berkeliaran di komplek di waktu malam, aku khawatir salah satu dari mereka masuk dalam rumahku lalu mengigit dan mencakar-cakar kulitku”.
“Kalau begitu rantai saja lehernya terus ikatkan ke kandangnya, beres kan”.
“Tidak semudah itu”.
“Ah, begitu saja tidak bisa, apa perlu aku ikut turun tangan”.
“Tidak perlu, aku sudah pernah melakukannya. Itu kulakukan saat pertama kali aku menjinakkannya. Selama satu minggu aku merantainya. Aku beri makan ia dengan makanan anjing yang paling mahal dan menungguinya sembari mengajaknya berbicara selama ia makan. Tapi ketika aku hendak mengelus jidatnya, tiba-tiba saja dengan tatapan seram ia meraung memperlihatkan gigi geruncingnya seakan mau menerkamku. Ia tidak semakin jinak, malah kian mengganas. Lalu aku pun melepas rantainya sewaktu ia mendengkur. Dan bila waktu makan aku letakkan makanannya di depan kandang. Lama-kelamaan ia menjadi jinak sendiri seperti sekarang. Itulah alasannya kenapa aku tidak mau merantainya”.
“Tapi, tampaknya aku ragu kalau anjingmu yang kemarin kulihat jinak dan penurut itu mempermainkanmu. Dan aku juga tidak yakin apakah perempuan itu penyebab utama anjingmu sering keluar disaat malam menjelang?. Apa kamu sudah menyelidiki ke mana anjingmu pergi?”.
“Belum, tapi aku yakin semua yang dilakukan anjingku pasti ada hubungannya dengan perempuan itu”.
***
Langit semakin petang. Burung-burung beterbangan kembali ke sarang. Demikian para pekerja berlalu lalang pulang berebut jalan yang kian sempit karena banyak bangunan yang menghimpit. Dan matahari pun mulai lelah, tengelam, setelah setengah hari menerangi hamparan alam dengan sinarnya yang terang.
Dan tampaknnya anjingku mulai bersiap-siap tuk meninggalkan kandang. Ia berjalan pelan menunduk-nundukkan kepalanya supaya tidak ketahuan. Aku mengikutinya dari belakang secara diam-diam. Ia tak tahu. Sesekali ia menenggok sambil menjulur-julurkan lidahnya. seakan memastikan keadaan. Ia pun mempercepat jalannya lantaran merasa aman.
“Dasar anjing bodoh!. Kali ini aku tidak akan kecolongan dan akan kubuktikan pada Lastri bahwa ucapanku itu benar”.
Ia berhenti di sebuah rumah yang lebih besar dari rumahku. Rumah itu mempunyai pekarangan yang lumayan indah jika dibandingkan rumahku yang tidak ada sama sekali. Gersang. Tapi ada sedikit kesamaan dengan rumahku, rumah itu tidak berpagar.
Dan ternyata ia masuk di dalam rumah itu. Aku pun mengendap-gendap mendekati rumah itu. Lantas secepat dan sehati-hati mungkin kurapatkan tubuhku ke tembok agar kehadiranku tidak diketahui oleh anjing bodoh itu. Kebetulan di sebelah kanan tembok rumah itu ada sebuah jendela yang sedikit terbuka sehingga aku bisa mengintip ke dalamnya.
Di dalam, aku lihat lemari kayu sederhana, sebuah dipan sekaligus kasurnya yang tampaknya cukup dibuat berdua, dan sebuah meja rias lengkap dengan peralatan make-upnya. Aku dapat memastikan yang kuamati sekarang merupakan kamar tidur dari rumah yang cukup besar ini. Tapi sayang, aku tidak bisa melihat anjing bodoh itu sebab kamar tidurnya tersekat tembok dan pintunya tertutup.
Aku hanya bisa menunggu di sisi luar cendela ini, setelah berputar mengelinggi rumah yang cukup besar ini aku tidak menemukan celah lagi selain di sini.
Petang pun bertambah pekat. Bulan dan bintang kian gemerlap di atas sana. Begitu pula lampu-lampu rumah tampak semakin terang. Aku masih tetap menunggu sembari bersandar menikmati keindahan dalam heningnya malam. Suasana komplek perumahan memang selalu sepi bila malam menjelang. Tak ada suara jangkrik, katak, atau binatang melata lainnya. Bahkan, suara anjing bodoh itu juga tak kudengar semenjak dari tadi. Hanya terkadang terdengar suara derum motor dan mobil yang datang silih berganti. Bising, memecahkan keheningan.
Dan beberapa saat kemudian aku terjaga dari lamunanku ketika kudengar suara anjing bodoh itu meringkih bersama desahan manusia berpeluh. Rasa penasaran mendesakku tuk segera berbalik ke cendela. Mata dan telingaku pun kembali menelisik dalam ruang kamar itu.
Seketika aku tersentak kaget, melihat anjingku bercumbu dengan manusia. Lidahnya menjulur menjilati liur yang hendak menetes. Aku jijik melihatnya. Anehnya, manusia itu sama sekali tidak merasa jijik, bahkan ia menghisap kembali air liurnya yang melumuri lidah anjingku. Lantas mereka berguling-guling di atas kasur dan berpelukan layaknya sepasang pengantin. Anjingku mencabik-cabik pakaian manusia itu hingga setengah telanjang, lalu menjilati liang liurnya. Sementara manusia itu kian mendesah-desah kenikmatan hingga akhirnya mereka terbang kepuncak singasana birahi. Menyatu dalam jiwa dan raga.
Tak sempat kubayangkan jika hal itu terjadi kepadaku. Bersenggama dengan anjing, aih! aku takkan sudi melakukan itu. Suatu perbuatan bodoh!, mau-maunya dipermainkan anjing. Sama saja menganggap diri sendiri anjing. Dan aku tak mau dianggap anjing, karena aku adalah mahluk yang dianugerahi pikiran sekaligus nafsu agar seimbang dalam menjalani kehidupan. Lain halnya binatang yang bertindak-tanduk hanya dengan nafsu belaka.
***
Pagi-pagi betul Mey pergi ke kantor. Ia sudah tak sabar ingin menceritakan kejadian yang ia lihat semalam itu pada teman sekantornya. Setiba di kantor ia pun langsung mencarinya. Kebetulan temannya juga baru saja datang.
“Kamu tahu apa yang kulihat kemarin, Las”.
Apa, apa?! Lastri penasaran
Kemarin aku lihat…… Mey berhenti sejenak tuk menghirup udara.
Kamu lihat apa?!, cepat ceritakan!. Tampaknya Lastri semakin penasaran
Aku lihat anjingku bersenggama dengan manusia.
Mata Lastri membelalak. Ia tercenggang mendengar kabar yang menurutnya amat sangat mustahil terjadi.
Dan kamu tahu siapa manusia itu?, tepat, seperti dugaanku, ia adalah perempuan yang kemarin mengelus dan mencium jidat anjingku.
Lastri semakin tersentak dan tak berkomentar sedikit pun setelah mendengar cerita Mey. Rasa sedih dan khawatir pun timbul tiba-tiba. Menurutnya Mey telah terserang penyakit anjing gila. Sehingga ia harus segera diperiksa dan dibawa rumah sakit jiwa lantaran virus tersebut mudah menyebar melalui hungungan kontak langsung.
Yogyakarta, 20 agustus 2009
Terinspirasi oleh Film “Mereka Bilang, Saya Monyet”.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Adab, Jurusan BSA, semester 5 (Lima).
MANTAP DIN TULISANMU, KL BARU BACA SEPINTAS SEPERTI MENGKIASKAN ANJING PADA WANITA TETAPI TIDAK SEPERTI ITU ENDINGNYA.... WAW TULISANMU MEMANG PANTAS DI ANCUNGI JEMPOL, SANG SASTRAWAN SEJATI TERUS BERKARYA, KAMU ADA KARENA KAMU BERKARYA OK MAJUUUUUUUUUU SATRAWAN FAK ADAB KITA UDIN Z.S
BalasHapusThanks kon komentarna
BalasHapus